![]() |
| Yulianus Uropdana, koordinator Gapuka-Papua, 28/4/2015. Jubi/Arnold Belau |
Jayapura, Jubi – Gerakan Awam Peduli Universitas Katolik Papua (Gapuka-Papua) menilai ada upaya tertentu yang dilakukan oleh Uskup Jayapura, Leo Laba Ladjar, OFM menghalang-halangi rencana pembanguan universitas Katolik di Paua.
Umat Katolik di tanah Papua sudah lama mengharapkan kehadiran universitas Katolik Papua untuk mendukung program-progrma pemeritah dan mencerdaskan anak bangsa karena pendidikan adalah oligasi kebangkitan bangsa.
“Selama ini lulusan SMA dan sederajat tidak diakomodir seluruhnya. Sehingga dampaknya banyak menambah daftar pengangguran di tanah Papua,” kata Yulianuas Uropdana, koordinator Gapuka-Papua, Selasa (28//5/2015) di Abepura.
Menurut Uropdana, rencana untuk membangun universitas Katolik di Papua sejak tahun 1990an dan sekarang sudah berakar di umat, tidak ada alasan bagi keuskupan untuk menutup mata, bahkan membiarkan harapan umat ini begitu saja.
“Rencana pembangunan universitas Katolik di Papua diharapkan menjawab sejumlah persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Papua, termasuk SDM untuk mengelola SDA,” ujarnya.
Menurutnya, hadirnya universitas Katolik merupakan wujud dari cinta kasih allah dalam diri kristus untuk membangun dan mensejahterakan manusia sebagai ciptaan Tuhan yang universal di tanah Papua.
“Seluruh umat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, cendekiawan, intelektual Katolik sangat mendukung rencana pembangunan universitas Katolik. Gereja, dalam hal ini hierarki gereja Katolik segera merespon harapan umat dengan mendirikan universitas Katolik di Papua,” ujarnya.
Pihaknya mengharapkan agar para hierarki tidak lagi meragukan gerakan umat awam karena suara umat adalah suara Tuhan. Tidak ada salahnya, uskup juga mendengar suara umat yang memiliki keinginan untuk hadirkan universitas Katolik di Papua.
“Jika pihak-pihak termasuk heirarki Katolik tidak merespon dan berniat untuk menggagalkan gerakan umat Katolik di tanah Papua maka gereja dipandang sebagai penabur nilai injil lemah, melalui pendidikan di Papua. Kami berharap uskup Jayapura membukan diri untuk bangun universitas katolik di Papua,” tegas Uropdana.
Sementara itu, drg. Aloysius Giyai, kepala dinas kesehatan provinsi Papua tidak lama ini mengatakan jika dirinya sudah memberitahukan kepada kementerian kesehatan di Jakarta untuk membangun akademi keperawatan Katolik di Papua.
“Saya sudah menghadap ke menteri kesehatan dan sudah sampaikan rencana utnuk bangun akademi kesehatan Katolik di Papua,” katan Giyai kala itu. (Arnold Belau)
Sumber: Tabloid JUBI

Post A Comment:
0 comments so far,add yours