Ilustrasi BEi
Jakarta, Megaphone PAPUA - Sejumlah perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia didesak segera melantai di bursa saham Indonesia. Beberapa perusahaan yang saat ini masuk radar Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk segera menggelar initial public offering (IPO), antara lain PT Freeport Indonesia, PT Newmont Nusa Tenggara, dan PT Wilmar International.

Perusahaan-perusahaan yang berbasis sumber daya tersebut diminta dapat berkontribusi lebih besar bagi perekonomian Indonesia lewat pasar modal. Perusahaan-perusahaan itu dinilai sudah selayaknya mendistribusikan sebagian keuntungannya lewat pembagian dividen di dalam negeri.

"Banyak kekayaan alam kita, seperti pertambangan dam perkebunan, yang dikelola swasta nasional maupun swasta asing, tapi listing di luar negeri. Itu tidak benar. Freeport, Newmont, dan Wilmar harusnya tercatat di BEI. Jika tidak, saya akan teriak sekencang-kencangnya. Kalau perlu, saya nongkrong di depan rumah pemiliknya," tutur Direktur Utama BEI, Tito Sulisto, di sela perayaan hari ulang tahun (HUT) pasar modal ke-38 di gedung BEI, Jakarta, Senin (10/8).

Saat ini, Freeport-McMoran Inc sebagai induk usaha PT Freeport Indonesia yang beroperasi di Papua justru mencatatkan diri di bursa saham New York. Hal yang sama terjadi pada PT Newmont Nusa Tengara dengan induk usahanya Newmont Mining Corporation. Sementara itu, Wilmar International Ltd, perusahaan perdagangan minyak sawit, yang anak usahanya beroperasi di Indonesia, tercatat di bursa Singapura.

Melonjak Tajam
Langkah memaksa perusahaan-perushaan tersebut masuk bursa Indonesia perlu diterapkan agar praktik transfer princing bisa dihindarkan. “Saya imbau kalau mengeksploitasi kekayaan kami, listing-nya di Indonesia dong, termasuk induknya. Itu supaya dividen tidak lari ke luar negeri. Saya akan data perusahaan yang mengelola sumber daya alam yang sudah listed. Kalau perlu, saya akan menginap di rumahnya," ucap Tito.

Sejatinya, isu mendorong ketiganya masuk bursa sudah lama berembus. Namun sampai saat ini, tak ada tanda-tanda perusahaan-perusahaan besar tersebut mau melakukan IPO di BEI.

Padahal jika perusahaan-perushaan tersebut mencatatkan sahamnya di pasar modal Indonesia, dapat dipastikan kapitalisasi pasar modal Indonesia melonjak tajam. Tercatat, nilai kapitalisasi pasar saham pada akhir Juli 2015 sebesar Rp 4.692 triliun, turun 1,80 persen dari Rp 5.053 triliun yang dibukukan pada akhir Juli 2014.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida mengakui, realisasi indeks harga saham gabungan (IHSG) dan nilai kapitalisasi market pasar modal Indonesia saat ini terkoreksi cukup dalam di kawasan regional. 

"Level IHSG masih belum menggembirakan karena per 7 Agustus 2015, IHSG terkoreksi 9,01 persen ke level 4.770,30 dari periode 2 Januari 5.242,77," ucapnya.

Dari data OJK, IHSG hanya mampu bertengger di urutan 10 indeks bursa regional 2015. Indonesia kalah dari Malaysia yang berada di posisi ketujuh dengan pertumbuhan negatif 4 persen; Thailand yang terkoreksi 4,48 persen; dan Singapura yang tercatat minus 5,16 persen.

Menurut Nurhaida, IHSG terkoreksi karena perkembangan ekonomi global, seperti krisis utang Yunani dan kondisi pasar saham Tiongkok. Beberapa faktor domestik juga memicu terjadinya pembalikan arus modal.

Hal yang sama terjadi pada perkembangan nilai kapitalisasi pasar bursa saham Indonesia tahun ini. Ia menyebutkan, nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia per 6 Agustus 2015 senilai US$ 340,25 miliar. Jumlah ini merosot 13,68 persen dari pencapaian US$ 394,18 miliar di periode 2 Januari 2015. 

___________________________________________
Editor    :Eli Numberi

Share To:

https://m-papua.blogspot.com/?m=1

Post A Comment:

0 comments so far,add yours