Wyn Sargent. ©istimewa
Megaphone PAPUA - Jennifer Brocklehurst baru saja meresmikan ikatan cintanya dengan pria Indonesia, Bayu Kumbara. Keduanya telah melangsungkan pernikahannya dengan upacara adat Padang.

Momen bahagia ini dibagikan oleh Jen, sapaan akrab Jennifer Brocklehurst, lewat akunFacebook miliknya. Berdasarkan foto yang diunggahnya, pernikahan tersebut baru saja berlangsung pada Minggu (10/8) kemarin. Alhasil, lini masa Facebook miliknya dipenuhi pelbagai ucapan selamat.

Jauh sebelum Jen yang menemukan tambatan hatinya dengan pria Indonesia, pernikahan berbeda ras dan bangsa juga pernah terjadi tahun 1973. Saat itu, seorang jurnalis asal California, Amerika Serikat menikah dengan kepala suku di Papua. 

Wanita yang dimaksud adalah Wyn Sargent, dia datang untuk mencatat keseharian suku Analaga, masyarakat adat pertama yang ditemuinya setelah mendarat di Wamena, Papua pada 1 Oktober 1973.

Untuk mendapatkan laporannya, Wyn berusaha berbaur dengan masyarakat setempat. Bahkan, dia juga menawarkan perawatan kesehatan bagi warga yang sakit. Namun, usahanya ini tak selalu mulus, sebab ada suku yang tidak suka dengan kehadirannya di Papua.

Kepala Suku Dani, Obahorok mengirim 30 orang prajuritnya untuk mencegat rombongan Wyn yang sedang berkeliling kampung. Tindakan sepihak ini membuat marah suku-suku lainnya, hingga hampir menyulut perang antar suku. Namun Wyn tak ingin membiarkan pertumpahan terjadi.

Setelah Wyn maju menengahi konflik, dia berusaha mengetahui keinginan masingmasing kepala suku. Akhirnya bersedia menikahi Obahorok untuk meredakan pertikaian. Pernikahan ini berlangsung pada Januari 1973. Pernikahan yang dilakukannya ini hanya bersifat simbolis, yakni untuk meredakan ketegangan dan menjaga perdamaian di Lembah Baliem. Pernikahan ini tanpa dilandasi cinta maupun hubungan biologis.

Tak lama setelah pernikahan dilakukan, tindakan Wyn mulai menimbulkan polemik, tak hanya di Papua, tapi juga di seluruh Indonesia. Tak hanya itu, profesinya sebagai antropolog juga menimbulkan dugaan Wyn memanfaatkan pernikahannya hanya untuk kepentingan pribadi dan komersial,

Alhasil, berbagai media nasional kala itu memajang pemberitaan Wyn di halaman depan. Tak mau terus menjadi polemik, pemerintah Indonesia memutuskan mendeportasi Wyn. Setelah menjejakkan kakinya di AS, Wyn lantas menulis buku 'People of the Valley' tentang kebudayaan orang Papua di lembah Baliem.

(Dari berbagai sumber)

Sumber: MERDEKA.com
Share To:

https://m-papua.blogspot.com/?m=1

Post A Comment:

0 comments so far,add yours