Articles by "Iran"
Showing posts with label Iran. Show all posts
Ilustrasi
Washington, Megaphone PAPUA - Pentagon AS kemarin (25/8) menyatakan kekhawatiran atas persetujuan penjualan sistem pertahanan udara peluru kendali S-300. As menyebutkan bahwa persetujuan penjualan tersebut bukanlah suatu perkembangan ke arah positif. 

Jubir Pentagon Peter Cook dalam jumpa pers rutin menyatakan, AS sangat mementingkan penjaminan keamanan di negara-negara mitra Timur Tengah dan menyatakan kekhawatiran atas penjualan sistem pertahanan udara rudal S-300 oleh Rusia kepada Iran. Namun, Cook juga mengatakan, walau Iran akhirnya memperoleh sistem rudal ini, tentara AS tetap mempunyai keyakinan dan kemampuan untuk memberikan reaksi militer yang sesuai. 

Menurut laporan media Iran, Menteri Pertahanan Iran Hossein Dehghan kemarin mengumumkan bahwa Iran dan Rusia akan menandatangani persetujuan penjualan sistem pertahanan udara rudal S-300 minggu depan.

Sumber: CRI

Misil pertahanan udara S-300 | (IB Times)
Washington, Megaphone PAPUA - Pentagon mengaku sangat khawatir dan prihatin dengan pembelian sistem pertahanan udara S-300 milik Rusia oleh Iran. Pentagon menuturkan, pembelian sistem pertahan udara ini merupakan perkembangan yang tidak baik di dunia internasional.

"Soal S-300, kami telah lama menyatakan keprihatinan tentang laporan mengenai kemungkinan penjualan sistem rudal ini ke Iran. Kami tidak melihat ini sebagai perkembangan positif," kata juru bicara Pentagon Peter Cook, seperti dilansir Time pada Selasa (26/8/2015).

Pembelian sistem pertahanan udara ini terjadi tidak lama setelah tercapainya kesepakatan nuklir antara Iran dan enam kekuatan dunia. Proses pembelian yang sempat tertunda akhirnya dilanjutkan, karena pembelian sistem pertahanan udara tidak dilarang dalam kesepakatan tersebut.

Kepastian selesainya pembelian sistem pertahanan udara tersebut disampaikan oleh Menteri Pertahanan Iran, Hossein Dehghan. Menurutnya, kontrak pembelian salah satu sistem pertahanan udara itu akan segera diteken, dan dalam waktu dekat Rusia akan mengirimkan S-300 ke Iran.

"Teks kontrak telah siap dan teman-teman kita akan pergi ke Rusia pekan depan untuk menandatangani kontrak," kata Dehghan dalam sebuah pernyataan. Menurut laporan media Rusia dan Iran, Rusia akan mengirimkan sistem pertahanan udara itu paling cepat awal tahun depan.


(esn)

Sumber: SINDOnews
Dua rival AS kerja sama produksi jet tempur model baru (Foto: Sputnik)
Teheran, Megaphone PAPUA – Para rival terbesar Amerika Serikat (AS) saat ini, yakni Rusia dan Iran dikabarkan telah sepakat menjalin kerja sama terbaru dalam bidang militer. Keduanya sepakat mengembangkan dan membuat jet jempur terbaru secara bersama.

“Iran dan Rusia akan bekerjasama dalam merancang dan membangun jet tempur model terbaru. Rusia telah sepakat dengan Iran setelah memelajari kemampuan negara yang telah bebas dari sanksi ekonomi AS itu,” ujar Menteri Pertahanan (Menhan) Iran Brigadir Jenderal Hossein Dehghan, seperti diberitakan Sputnik, Senin (24/8/2015).

“Di bidang manufaktur jet tempur, kami tidak akan mengembangkan kerja sama itu dengan negara lain selain Rusia,” sambungnya.

Dirinya menuturkan, Iran memiliki hubungan militer dengan 35 negara termasuk China, Irak, Rusia, Oman, India, Pakistan, dan Belarusia di berbagai bidang, seperti keahlian teknis dan teknik, pemeliharaan, dan penjualan sistem militer. Namun, soal pembuatan jet tempur, Iran hanya bekerjasama dengan Rusia.

Di kesempatan yang sama, Dehghan juga mengatakan, Iran saat ini berencana untuk menjual Unmanned Aerial Vehicles (UAV) buatan mereka sendiri kepada negara lain yang berminat.

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran memang telah membuat prestasi besar di sektor pertahanan dan bisa dikatakan cukup sukses dalam memproduksi peralatan militer penting dan sistem pertahanan.

(hmr)
 
Sumber: OKEZONE
Banyak pengamat melihat kecil kemungkinan Khamenei akan menolak kesepakatan nuklir karena ia melindungi Presiden Hassan Rouhani secara politik untuk mengejar kesepakatan itu. (Dok. http://commons.wikimedia.org)
Jakarta, Megaphone PAPUA -- Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei mengatakan pada Senin (17/8) bahwa kesepakatan nuklir Iran dengan negara-negara besar di dunia tidak akan membuat negara itu terbuka atas pengaruh politik ataupun ekonomi Amerika Serikat.

Khamenei, otoritas tertinggi di Iran, dinilai telah menahan dirinya untuk membuat pernyataan yang kontroversial menjelang perjanjian nuklir yang disepakati bulan lalu. Di AS, perjanjian nuklir Iran masih harus melewati persetujuan Kongres terlebih dulu.

"Mereka pikir kesepakatan ini—dan tidak jelas apakah akan lolos di Iran atau di Amerika—akan membuka Iran terhadap pengaruh mereka," kata Khamenei dikutip di laman website-nya, saat pertemuan dengan anggota Radio Islam dan Serikat Televisi.

"Kami menghalangi jalan ini dan pasti akan memblokirnya di masa depan. Kami tidak akan membiarkan pengaruh politik, ekonomi atau budaya Amerika di Iran,” lanjut dia.

Banyak pengamat melihat kecil kemungkinan Khamenei akan menolak kesepakatan nuklir karena ia melindungi Presiden Hassan Rouhani secara politik untuk mengejar kesepakatan itu. Namun ia juga memiliki rasa tak percaya yang mendalam terhadap AS. 

Jika kesepakatan diberlakukan, sanksi internasional terhadap Iran akan dicabut, dan akan membuka investasi asing di Iran setelah bertahun-tahun isolasi. (stu)

Sumber: CNN
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov/Foto:rt.com
Publicapos.com - Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, Senin (17/08), akan menjamu Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif dalam diskusi terkait kesepakatan program nuklir Teheran dan konflik di Suriah.

“Kunjungan tersebut dilakukan dalam konteks dialog Rusia-Iran yang kian aktif akhir-akhir ini, mencerminkan tingkat pemahaman bersama yang cukup tinggi antara Moskow dan Teheran,” ungkap kementerian luar negeri Rusia dalam sebuah pernyataan pada Sabtu.

Kedua negara tersebut semakin erat dan Rusia membantu mengarahkan perjanjian pada Juli dengan negara-negara besar dunia terkait program nuklir Iran.

Moskow berharap bahwa pihaknya dapat meraih keuntungan dari kesepakatan nuklir tersebut, yang berisi pencabutan sanksi ekonomi terhadap Teheran.

Rusia - yang merupakan pendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad bersama dengan Iran - telah meluncurkan dorongan diplomatik baru untuk menemukan solusi perang saudara selama empat tahun yang telah merenggut sekitar 240.000 nyawa di Suriah.

Di tengah kesibukan diplomasi, Menteri Luar Negeri Rusia juga telah menggelar perundingan dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi di Moskow pada pekan ini, bersama dengan perwakilan dari oposisi Suriah.(adj/AFP)

Sumber: PUBLICAPOS
            Presiden Hassan Rouhani menilai Israel cengeng dan Kongres AS penghasut perang. | (Reuters)

Teheran, Megaphone PAPUA - Presiden Iran, Hassan Rouhani, meledek Israel sebagai satu-satunya negara yang menangis meratapi kesepakatan nuklir Iran. Rouhani juga menuduh Kongres Amerika Serikat (AS) sebagai “penghasut perang Amerika”.

Tuduhan Rouhani terhadap Kongres AS itu muncul setelah para politikus di Kongres AS kerap menyuarakan kebijakan yang menentang kesepakatan nuklir antara Iran dan enam negara kekuatan dunia (P5+1).

Presiden Barack Obama sendiri menyatakan, jika Kongres AS menentang kesepakatan nuklir Iran maka Pemerintah AS akan dipaksa menggunakan kekuatan militernya  untuk menyerang fasilitas nuklir Iran. Namun, Obama sudah memperingatkan jika hal itu terjadi maka Israel bisa hujan roket yang ditembakkan oleh para kelompok militan pro-Iran. (Baca: Jika Kongres AS "Bunuh" Kesepakatan Nuklir Iran, Israel Hujan Roket)

Dalam pidatonya di Teheran, Presiden Rouhani menggambarkan betapa kecewanya Israel dengan kesepakatan nuklir Iran.

”Hari ini, Anda melihat bahwa satu-satunya rezim yang menangis dari pagi sampai malam adalah rezim Zionis si perampas,” kata Rouhani mengacu pada Pemerintah Israel dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang berulang kali mengimbau kepada para pemimpin dunia, serta politisi Amerika untuk menentang kesepakatan nuklir Iran, sebagaimana dikutip Jerusalem Post, Jumat (7/8/2015).

Menurut Rouhani, meski perundingan nuklir Iran sudah mencapai kesepakatan antara Iran dengan P5+1 (AS, Rusia, Inggris, Prancis, Jerman dan Rusia), tapi panggung politik AS bermasalah. Sebab, para politisi di Kongres AS menyuarakan kebijakan bermusuhan dengan kesepakatan nuklir Iran.

”Hari ini semua negara-negara regional dan bangsa Iran yang besar, kecuali rezim Zionis di perampas dan penghasut perang Amerika, senang dengan kesepakatan yang besar ini,” kata Presiden Rouhani. (Baca juga: Petinggi Iran Salahkan AS Jika Perang Dunia III Pecah)

Sedangkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu telah mengatakan bahwa kesepakatan nuklir Iran yang difasilitasi Menteri Luar Negeri AS, John Kerry atas nama P5 +1 dan kepala negosiator Iran, Mohammad Javad Zarif (Menteri Luar Negeri Iran) telah memberikan mandat kepada Iran menjadi negara nuklir.


(mas)
______________________________________________
source: SINDOnew
Iran kecam retorika Menlu AS, John Kerry, yang mengancam akan menggunakan kekuatan militer pada Iran. | (Reuters)
 
Teheran, Megaphone PAPUA - Iran mengecam retorika Amerika Serikat (AS) yang akan menggunakan kekuatan militer jika Teheran gagal menjalankan kesepakatan nuklir. Iran menyebutnya sebagai ancaman kosong.
Ancaman itu dilontarkan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry. Iran dan enam negara kekuatan dunia (AS, Rusia, Inggris, Prancis, Jerman dan China) telah mencapai kesepakatan nuklir di Wina pada 14 Juli 2015.

Dalam kesepakatan itu, Iran harus mengekang program nuklirnya untuk jangka panjang. Imbalannya, sanksi negara-negara Barat terhadap Iran akan dicabut.

”Sayangnya Menteri Luar Negeri AS sekali lagi berbicara tentang ‘tali busuk’, soal kemampuan AS untuk menggunakan kekuatan militernya,” kata Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Al Arabiya, Sabtu (25/7/2015).

Zarif mengecam retorika yang ia sebut “ancaman kosong yang tidak berguna”. Ancaman itu tidak hanya dilontarkan John Kerry. Sebelumnya, Kepala Pentagon atau Menteri Pertahanan AS, Asthon Carter juga sempat mengeluarkan ancaman serupa.

Carter pernah menyatakan bahwa opsi penggunaan kekuatan militer oleh AS terhadap Iran tetap di atas meja. Opsi itu untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

“Kerry dan pejabat Amerika lainnya telah berulang kali mengakui bahwa ancaman ini tidak berpengaruh pada kehendak rakyat Iran dan bahwa hal itu akan mengubah situasi yang merugikan mereka,” kata Zarif.

”Oleh karena itu, akan lebih baik bagi orang Amerika untuk meninggalkan kebiasaan lama mereka dan mengesampingkan untuk menggunakan segala bahasa ancaman dan sanksi mereka terhadap orang-orang hebat ini,” lanjut diplomat Iran itu.
_____________________________
Editor      : Alfonsius K
Sumber   : SINDOnews