Articles by "Saham"
Showing posts with label Saham. Show all posts
Foto: Ilustrasi.
Sydney, Megaphone PAPUA - Pasar saham Australia ditutup lebih tinggi, Selasa (08/09/2015), dipimpin oleh sektor energi karena demam pembelian. Itu setelah Woodside Petroleum mengumumkan rekor kesepakatan pengambilalihan.

Indeks acuan S&P/ASX200 berakhir 84,8 poin atau 1,69 persen lebih tinggi pada 5.115,2, sementara indeks All Ordinaries naik 82,5 poin atau 1,63 persen menjadi 5.133,5. Saham Oil Search melonjak 17,38 persen sementara Woodside Petroleum turun 3,01 persen setelah Woodside mengumumkan tawaran US$11,6 miliar untuk Oil Search yang difokuskan di Papua Nugini dalam apa yang dilaporkan salah satu kesepakatan pengambilalihan terbesar di pasar Australia .

Santos juga naik 5,25 persen. BHP Billiton bertambah 2,11 persen sementara saingannya Rio Tinto ditutup 2,18 persen lebih kuat.

Westpac naik 2,42 persen, ANZ menguat 3,07 persen, Commonwealth Bank of Australia bertambah 2,56 persen dan National Australia Bank naik 1,99 persen. Wesfarmers naik 1,02 persen namun Woolworths datar, hanya naik 0,04 persen. [tar]

Sumber: INILAH
Indeks Dow Jones sempat turun sampai 1.000 poin pada perdagangan Senin 24/08.
Bursa saham Wall Street di New York anjlok selama lima hari berturut-turut menyusul turunnya pasar saham di Eropa dan Asia karena kekhawatiran semakin melambatkan perekonomian Cina.
Pada hari perdagangan yang berubah dengan cepat, Senin 24 Agustus, indeks Dow Jones sempat turun sampai 1.000 poin sebelum pulih kembali pada 15.871,35 atau turun 3,6%.
Sementara itu S&P 500 ditutup dengan penurunan3,9% di level 1.893,21 dan Nasdaq turun 3,8% dengan penutupan pada 4.038.6.
Penurunan saham di Amerika Serikat didorong oleh kekhawatiran akan kesehatan perekonomian Cina.
Pabrik di Cina
Kekhawatiran perlambatan ekonomi Cina lebih buruk dari yang diperkirakan sebelumnya
Image copyright
Dua pekan lalu, Bank Sentral Cina menempuh devaluasi mata uang yuan, yang meningkatkan kekhawatiran perlambatan ekonomi di negara itu lebih buruk dari yang diperkirakan sebelumnya.
Kekhawatiran utama para investor adalah perusahaan maupun negara yang tergantung pada permintaan tinggi dari Cina akan terkena dampak perlambatan ekonomi.
Bagaimanapun para pengamat berpendapat investor di Amerika Serikat bertindak agak berlebihan.
"Dugaan bahwa perekonomian Cina akan membawa perekonomian AS ke dalam resesi adalah tidak masuk akal, karena (ekonomi AS) dua kali lebih besar dari ekonomi Cina dan berdasar pada konsumen," jelas Philip Blancato, pimpinan eksekutif di Ladenberg Thalmann Asset Management.
Cina saat ini merupakan negara perekonomian terbesar dunia dan juga negara importir terbesar kedua, baik untuk barang maupun jasa.
Sumber: BBC
Foto: Dok BBC Indonesia
Jakarta, Megaphone PAPUA - Penurunan saham di China memicu kejatuhan tajam bursa saham di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat. Mengapa pengaruhnya begitu signifikan?
Ada apa di balik kejatuhan saham di China?

Penjelasan yang lebih luas adalah pertumbuhan ekonomi di China melambat dan ada kekhawatiran bahwa perpindahan dari perlambatan ekonomi ke tingkat pertumbuhan yang lebih berkelanjutan akan mengganggu pasar.
Selain itu, ada lonjakan di pasar saham China. Indeks utama Shanghai naik lebih dari dua kali lipat dalam 12 bulan sampai pertengahan Juni. Hal itu disebabkan oleh pembelian saham menggunakan uang pinjaman, sehingga saat pasar mulai menurun banyak investor yang memutuskan - atau telah - menjual investasi mereka demi membayar utang. Aksi ini memperparah kejatuhan yang terjadi pada awal.
Ada faktor-faktor spesifik yang mendorong penurunan saham terjadi lebih rendah pada hari-hari tertentu. Pada hari-hari ini, Bank Sentral China tidak melakukan langkah apa-apa, seperti mereka tidak mengambil langkah untuk mendorong pinjaman bank, dan ini mengecewakan investor yang berpikir bank akan mengambil langkah tersebut. Namun stimulus itu tidak ada dan saham jatuh secara tajam.
Apa artinya buat dunia?

Dampak langsung turunnya harga saham di China sebenarnya sedang saja. Di pasar China, tak cukup banyak investasi asing, sehingga tak menjadi masalah. Menurut konsultan di London, Capital Economics, orang asing hanya punya 2 persen saham.
Kini yang menjadi kekhawatiran adalah apakah ini menjadi cerminan masalah perlambatan ekonomi yang lebih besar di China yang berdasar pada devaluasi yuan awal bulan ini.
Sebagian besar warga China tak memiliki saham, tapi mereka mengalami dampak lain dari perlambatan ekonomi
Turbulensi pasar keuangan di China menyoroti isu ini: apakah ekonomi mereka menuju ke pendaratan yang keras, atau perlambatan yang terlalu tajam?
China kini menjadi kekuatan besar dalam ekonomi global sehingga mau tak mau akan mempengaruhi seluruh dunia. Selain menjadi ekonomi terbesar kedua dunia, China juga menjadi importir kedua terbesar layanan barang dan jasa.
Bukan hanya saham
Harga komoditas lainnya juga ikut terpengaruh, terutama minyak mentah. Masalah di China ikut mendorong harga minyak setelah penurunan dramatis dalam paruh kedua tahun lalu. Harga minyak mentah Brent sudah jatuh sepertiga sejak pertengahan Juni, saat mulai terjadi penurunan bursa saham.
China adalah pembeli komoditas industri yang besar sehingga kemungkinan menjual lebih sedikit barang ke sana ikut menurunkan harga tembaga dan aluminium, misalnya.
Dalam beberapa minggu terakhir, emas sudah kembali menguat (meski masih lebih rendah sejak penurunan pasar saham China awal Juni lalu). Emas dianggap sebagai investasi yang lebih aman, perlindungan terhadap inflasi dan ketidakstabilan keuangan lanjutan.
Jatuhnya harga saham di China juga ikut menaikkan beberapa mata uang yang dilihat sebagai investasi aman, seperti yen dan franc Swiss.
Dolar AS juga punya potensi yang sama. Namun dampak langsungnya adalah investor berpikir kenaikan suku bunga yang mereka harapkan dari Federal Reserve bisa ditunda karena guncangan ini. Prospek bahwa aset AS akan mendapat keuntungan lebih kecil dari yang sebelumnya diperkirakan kemudian melemahkan dolar AS.
Selain menjadi ekonomi terbesar kedua dunia, China juga menjadi importir kedua terbesar layanan barang dan jasa.
Efek 'safe haven' juga mengurangi biaya peminjaman di Amerika Serikat dan Jerman, beberapa di antaranya.

Bagaimana dengan penduduk China?

Mereka yang meminjam uang untuk membeli saham dalam beberapa bulan terakhir mengalami dampak terparah. Tapi sebagian besar orang tak memiliki saham - hanya satu per 30 orang, menurut Capital Economics.
Buat kebanyakan warga China, masalah yang lebih besar adalah kesehatan ekonomi negara tersebut. Jika China bisa melakukan transisi ke tingkat pertumbuhan yang lebih lambat dan lebih berkelanjutan, ekonomi masih cukup cepat untuk meningkatkan standar hidup buat sebagian besar orang. Perlambatan yang lebih mengganggu akan menyebabkan kegagalan bisnis dan kehilangan pekerjaan.
Apa langkah pemerintah China selanjutnya?

Mereka punya beberapa opsi untuk menstimulasi ekonomi yang bisa berdampak pada pasar saham. Mereka bisa memotong suku bunga, mengurangi aturan-aturan pinjaman di bank, atau bisa meningkatkan belanja. Pemerintah China juga bisa mendorong yuan turun lebih jauh lagi untuk mendorong ekspor.
Apakah kita harus khawatir?

Ada pandangan berbeda tentang seberapa sehat sebenarnya ekonomi China, namun krisis di sana akan berdampak serius bagi dunia, terutama bagi pembeli komoditas industri seperti minyak, tembaga, dan bijih besi.

(rhs)

Sumber: Okezone

Foto: Bursa Saham China (Reuters)

New York, Megaphone PAPUA -Setelah beberapa waktu lalu membuat geger dunia karena dengan sengaja mendevaluasi mata uang yuan, China kembali membuat geger dunia karena kejatuhan bursa sahamnya hingga 9% pada Senin kemarin.

Kondisi ini membuat bursa saham di dunia berjatuhan, termasuk juga harga komoditas. Bahkan, bursa saham Wall Street di Amerika Serikat (AS) ikut anjlok setelahnya.

Indeks Dow Jones di Wall Street sempat terjun 1.000 poin atau hampir 7%, beberapa saat setelah pembukaan perdagangan. Pada penutupan, Dow Jones naik dan tercatat turun 3,6%.

"Bila belum ada perbaikan di China, pemburukan masih akan terjadi besok (di Wall Street)," kata Analis, Randy Frederick, dilansir dari Reuters, Selasa (25/8/2015).

Tak hanya bursa AS, indeks saham Hang Seng di Hong Kong juga turun 2% kemarin. Indeks Nikkei di Jepang turun 6%. Lalu, bursa saham di Eropa turun 5,4% kemarin.

Selain bursa saham, harga minyak juga turun. Minyak produksi AS turun 5,5% kemarin menjadi US$ 38,24 per barel. Sementara harga minyak jenis Brent turun 6% menjadi US$ 42,69 per barel.

Menurut Reuters, kejatuhan bursa China merupakan yang terparah sejak krisis keuangan 2007 lalu. Banyak pelaku pasar berharap, pemerintah China melakukan kebijakan untuk menahan pelemahan bursa sahamnya, seperti pemangkasan suku bunga acuan.


Sumber: DETIK