Articles by "Suara Gereja"
Showing posts with label Suara Gereja. Show all posts
Foto KKR (www.bennyhinn.org)
Foto KKR (www.bennyhinn.org)

Sentani, 26/7 (Jubi) – Sejumlah tokoh dan aktivis Papua menuding Benny Hinn, seorang pastor dari Amerika Serikat yang baru -baru ini menggelar pesta akbar rohani dan pengobatan massal lewat acara bertajuk  Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Transformasi Papua di Sentani, Kabupaten Jayapura , hanyalah  mencari keuntungan atas penderitaan orang Papua.
“Nabi palsu yang menari-nari di atas penderitaan dan tanggisan rakyat Papua,”tulis Steven Itlay, aktivis Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dalam Akun Facebooknya, (25/7).
Menurutnya, tarian Benny Hinn itu bagian dari bisnis, bukan pewartaan kebenaran dan keselamatan. “Hamba yang jadikan Firman sebagai Bisnis,”tuturnya.
Tokoh Papua, Benny Giay pun mengatakan pewartaan Benny Hinn itu bagian dari pengalangan dana misinya. Orang Papua hanya jadi sarana atau objek pengumpulan dana.
“Sambil mengutip ayat-ayat Alkitab, pihaknya bisa bersembunyi dan mengakui tidak ada urusan dengan lingkungan sosial yang dikendalikan para penguasa tadi melalui kebijakan publik degeneratif yang mendatangkan penderitaan sosial yang tidak sedikit di pihak Papua selama bertahun-tahun,” kata Benny lewat opininya di tabloidjubi.com.
Menurutnya , Benny Hinn, memiliki yayasan dan program yang mereka harus biayai misalnya tim KKR, universitas, program radio, yang mereka percayakan kepada tim.
KKR ini selain menjadi wadah pemberitaan, mereka gunakan untuk mencari dana merencanakan kegiatan KKR selanjutnya di negara lain dengan poster orang-orang Papua yang sedang menghadiri KKR-nya.
“Sehingga orang Papua dipakai lagi mencari dana untuk membiayai proyek lainnya. Kalau orang Papua bertanya kepada dia: ‘Tuan Hinn, apa dan mengapa dalam hal dana ini?’ Nanti pendeta KKR dengan enteng akan menjawab, Sory, Sory no free lunch. Kau harus bayar makan siang. Tidak ada makan siang gratis di dunia ini,” ujar Benny.
Pada pesta akbar rohani yang digelar di lapangan udara Sentani, pada Jumat (25/7) itu, diklaim dihadiri oleh sekitar 645.000 orang.
Akun Facebook Benny Hinn Ministries, Sabtu (27/7), mengklaim ribuan orang Papua itu berkerumun menerima kata-kata penyebuhan dan penyelamatan pastor Benny Hinn.
“Tuhan telah merencanakan khusus untuk memulihkan Papua yang kedua kali. Saya melihat lambaian tangan mencurahkan wilayah ini dan saya sungguh melihat ada hari-hari Tuhan yang baik mengerakkan seluruh hati bangsa Indonesia,”tuturnya dalam akun itu. kutipan ini bisa dapat dibaca www.bennyhinn.org.
Akun itu menampilkan bukti 6 foto , kerumunan orang menghadiri KKR. Postingan pertama ada 4 foto. lebih dari dua ribu  facebookers menyukai foto -foto itu  (Jubi/Benny)


Pdt. Dr. Benny Giay, Ketua Sinode Kingmi Papua. Foto: MS

Dalam catatan yang lalu kita sudah lihat 'orang Papua sebagai aktor dalam KKR ini dan kiatnya mengibarkan bendera kepentingannya'. Perhatian dari catatan ini ialah Aktor lain: si pendeta KKR, Benny Hinn itu sendiri.

Tetapi kita tidak lihat si Hinn, Pdt KKR ini secara pribadi, tetapi dari sudut pandang tradisi dan sejarah gereja yang telah lama berakar di barat yang pada gilirannya ikut menyeret cara berpikir para pendeta dan gereja Papua yang terus habiskan banyak dana menghadirkan pendeta-pendeta KKR selama ini di tanah ini.

Pertama, yang perlu kita ketahui ialah arah pikiran dan sejarah gereja-gereja Papua. Para pendeta atau gereja Papua tertentu yang mengundang pendeta KKR ini dibina dalam gereja-gereja yang dibentuk oleh badan penyiaran Injil barat yang mementingkan KKR di tempat terbuka sebagai salah satu metode pembinaan iman umatnya.

Badan-badan penyiaran Injil ini yang dalam tahun-tahun 1950-an merintis gereja di Papua membawa tradisi barat yang mengidolakan KKR sebagai metode pembinaan iman. Sehingga wajar kalau gereja-gereja yang  dirintis badan penyiaran Injil ini digiring untuk meneruskan tradisi ini di Papua.

Apa yang dilakukan badan penyiaran Injil itu untuk mencuci otak gereja di Papua dan Indonesia untuk mewariskan 'budaya KKR" ini? Mereka mendirikan penerbit dan toko buku, lalu mereka menerjemahkan kisah hidup para pendeta KKR di barat itu dan menerbitkannya; kemudian mengajarkannya sebagai sejarah gereja.

Kedua, dalam tradisi dan sejarah gereja seperti itu para pendeta KKRI ini yang sering disebut sebagai 'penginjil keliling ini' otomatis mencapai status selebriti. Mereka bisa keliling dunia berkotbah di mana-mana, kumpul uang jadikan kegiatan KKR di kota-kota besar dan tinggal di hotel-hotel mewah, cari uang dari orang-orang kaya di negara-negara dunia ketiga.

Saya ingat tahun 2012, kalau tidak salah, pendeta KKR: Richard Bonnke dalam bulan Desember cari dana di Hyatt Hotel di Bundaran Hotel Indonesia, dia undang orang terkaya di Indonesia dan beberkan rencananya untuk mengkristenkan Afrika dan dunia dengan tayangkan video kegiatannya menyembuhkan ribuan orang Afrika yang sakit dan menderita.

Saya yakin pendeta KKR kita (Benny Hinn) akan lakukan hal yang sama saat keluar dari Papua. Dia akan tayangkan orang Papua yang sakit, gizi buruk, perempuan dan anak-anak Papua tanpa harapan di depan publik dengan poster (apa lagi berita-berita kekerasan negara di tanah ini terus menghangat) untuk mmbiayai kegiatan selanjutnya dan proyek lainnya di Amerika.

Dengan modal status selebritinya mereka diterima dan tidak jarang kegiatannya dibiayai petinggi-petinggi negara itu. Dan sebagai balasannya, mereka dalam sepak terjang mendukung penguasa-penguasa yang  haus darah itu.

Kemarin kita lihat pendeta-pendeta Papua dan pendeta KKR sudah menyanyikan 'Indonesia Raya' dalam KKR tanpa menyentuh masalah kekerasan di tanah ini. Tetapi dia bukan sendiri di sini.

Pendeta KKR sebelumnya: Billy Graham adalah contoh lain di sini yang melakukan hal yang sama. Malam sebelum Presiden Bush menyerang Sadam Husein tahun 1990, pendeta KKR: Billy berdoa pergi ke Gedjng Lutih untuk Presiden Bush bagi kekalahan Sadam Husein dan rakyat. Tetapi pada saat yang sama doa bagi kemenangan Amerika. Posisi politiknya pendeta KKR jelas.

Walau pun Billy Graham sedikit lebih baik dan lebih akademik sehingga terlibat dalam pengembangan perguruan tinggi teologi yang dikenal luas dan berdampak global dengan mendukung dana pembangungan Wheaton College yang kemudian dikembangkan menjadi Wheaton Graduate School; dan Fuller Theological Seminary.

Tidak seperti pendeta KKR lain oleh karena kelebihan uang yang menyebabkan mereka terjebak dalam dosa kemewahan selebriti seperti: perselingkuhan seksual seperti pendeta KKR  Jimmy Swargard beberapa tahun lalu.

Singkatnya, siapa pun pendeta KKR dan panitia yang mengatur kegiatan KKR di mana saja, kita dan Tuhan tahu bahwa Tuhan yang mereka beritakan tidak lain dari 'Tuhan para firaun modern' itu.


Pdt. Dr. Benny Giay Adalah Ketua Sinode Kingmi Papua.
Foto: Ketua Sinode Kingmi Papua, Benny Giay/“Antara Para Pendeta KKR, Indonesia dan Papua”/Dok. FB

Beberapa tahun terakhir ini Papua menjadi berita, baik media nasional (di Jakarta) maupun di luar. Pokok masalahnya tidak lain dari Papua yang terus direkayasa menjadi tetap pada posisinya sebagai situs pertumpahan darah oleh Jakarta dan berbagai pihak.

Menyikapi kondisi papua yang demikian, sejumlah aktivis dan lembaga internasional dalam 10 tahun terakhir mendesak Indonesia untuk memberi ijin kepada wartawan, pengamat dan pekerja kemanusiaan untuk mengunjungi Papua.

1. Apa tanggapan Indonesia?

Dalam suasana Papua yang demikian, Indonesia semakin kencang atau rajin mengundang para Pendeta yang bikin Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) mulai di lapangan Mandala (Jayapura), Trikora (Abepura) maupun Lapangan Theys (Makam Theys) Sentani. Mulai dengan Paul Youngeren, Susana sampai Benny Hinn dan selanjutnya siapa lagi?

Para pendeta KKR ini dalam suasana demikian tidak datang bla-bla atau bicara dalam ruang kosong. Mereka datang bicara di Tanah Papua yang sedang diperebutkan dua makhluk: Papua dan Indonesia. 

Dua pihak yang punya kepentingan eksistensi masa depan. Dua pihak yang berupaya saling menghilangkan satu dengan yang lain. Ketika Indonesia mengijinkan Pdt KKR itu ke Papua mengadakan KKR, ia punya perhitungan matang agar pihaknya mendapat keuntungan atau kredit point dari kegiatan ini. Indonesia tidak mungkin kasih cek kosong ke Pendeta KKR ini.

Sebaliknya para Pendeta KKR seperti Benny Hinn, dia tau bahwa dia tidak datang semata-mata sebagai "utusan Tuhan" seperti yang diduga warga jemaat Kingmi, menurut versi (Alkitab) Amsal Soleman. Alias tidak berhikmat. Asal bicara. Merasa diri inti sehingga asal memberi komentar di facebook mendukung KKR demikian; tanpa melihat masalah demikian secara utuh. 

Melihat dunia sekitarnya tanpa memperhitungkan para aktor yang mengendalikan kehidupan keseharian masyarakat negeri ini yang telah diposisikan sebagai yang lain yang perlu diawasi oleh Jakarta.

Artinya dalam Sejarah Gereja (Amerika Selatan para penguasa militer) para Pendeta KKR demikian sering bekerja sama dengan penguasa yang haus darah dan haus kekuasaan. Para Pendeta KKR dalam kasus demikian diberi ijin dan dana tetapi dengan kesepakatan "penyampaian atau kotbahnya tidak boleh menyentuh dosa dan menelanjangi kejahatan struktural yang membuat rakyat negara-negara itu hidup dalam rawa-rawa kemiskinan".

2.  Kepentingan Pendeta KKR

Dari sisi Pendeta KKR, ini tidak masalah. Ok, ok saja. Karena dua hal.

Pertama, dia (si Pendeta KKR) itu bisa membela diri: pihaknya hanya dipanggil untuk membasmi dosa-dosa diri pribadi. Manusia yang otonom dari sentuhan ideologi dan kebijakan publik penguasa tadi. Sambil mengutip ayat-ayat Alkitab, pihaknya bisa bersembunyi dan mengakui tidak ada urusan dengan lingkungan sosial yang dikendalikan para penguasa tadi melalui kebijakan publik degeneratif; yang mendatangkan penderitaan sosial yang tidak sedikit di pihak Papua selama bertahun-tahun.

Kedua, para Pendeta KKR itu sendiri punya Yayasan atau Lembaga dan program yang mereka harus biayai seperti: Tim KKRnya, Universitas, Program Radio, yang mereka percayakan kepada Tim profesional yang dia harus biayai. KKR ini selain menjadi wadah pemberitaan "kabar gembira", mereka gunakan kegiatan ini untuk mencari dana untuk merencanakan kegiatan KKR selanjutnya di negara lain dengan poster "orang-orang Papua yang sedang menghadiri KKRnya", sehingga orang Papua dipakai lagi untuk mencari dana untuk membiayai proyek lainnya yang disebutkan di atas.

Kalau orang Papua bertanya kepada dia: "Tuan Hynn, apa dan mengapa dalam hal dana ini"? Nanti Pendeta KKR dengan enteng akan menjawab, Sory, Sory no free lunch. Kau harus bayar makan siang. Tidak ada makan siang gratis di dunia ini.